Senin, 04 Juli 2022

Aku Bangga Menjadi Anak Desa

AKU BANGGA JADI ANAK DESA
(ANAK SEORANG PETANI BURUH)

Kami adalah keluarga yang hidup sederhana, dan aku bangga punya Bapak yang mampu menyekolahkan anaknya. Anak-anak hebat yang punya mimpi hasil didikan seorang petani, bahkan sebagai petani buruh.

Yang selalu aku ingat adalah jasa-jasa, sikap, perjuangan, dan ketulusannya yang tiada batas. Bapakku memang hanyalah seorang petani biasa, bahkan mungkin hanyalah seorang petani buruh. Kalau sedang beruntung ayahku juga menjadi petani penggarap. Tugasnya menggarap sawah milik seorang tuan tanah di kampungku. Bapakku tak memiliki sawah ataupun lahan seperti hal orang-orang yang mampu memilikinya. Satu-satunya sawah yang sering dikelola oleh Bapak adalah sawah warisan ukuran saclebek atau sairing (istilah bahasa daerah). *** ± 150m-300m.

Seperti petani yang lain Bapak selalu berangkat pagi-pagi, setelah melaksanakan sholat subuh. Waktu perjalanan dari rumah ke sawah ditempuh setengah jam dengan berjalan kaki.

Yang menjadi ingatan sampai saat ini. Waktu itu aku berangkat sekolah, dan Bapak berangkat kesawah. Bapak dan aku sama-sama jalan kaki, kami memang tidak berangkat bersama. Namun di pinggir jalan raya ketika aku berjalan menuju sekolah, aku melihat Bapak di pinggir pematang sekitar kurang lebih 130m dariku, sedang berjalan membawa cangkul dan peralatan lainnya. Hatiku terenyuh. Aku terpikir. Aku berjalan dengan membawa pena dan buku, pergi ke sekolah tingkat pertama di Kecamatan, bebanku pun ringan. Sementara di sana Bapak berjalan dengan cangkul yang berat dan alat-alat pertanian lainnya. Kalau aku yang membawanya sendiri. Aku berjalan untuk menulis dan bertemu dengan teman-temanku dalam suasana riang. Sementara Bapak berjalan untuk mencari nafkah. Bergelut dengan panasnya sinar matahari. Bergulat dengan lumpur-lumpur sawah yang penuh dengan kotoran dan air menghitam tanpa mengenal lelah.

Akupun teringat, kalau semasa kecil Bapak tidak merasakan bangku sekolah SLTP seperti aku jalani. Bapak hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat, itu pun dengan penuh jerih payah. Sedangkan aku bisa sekolah dari SD hingga sampai mampu tamat (lulus) SLTA sama halnya dengan teman-temanku lainnya. Aku memiliki dua bersaudara kakakku laki-laki sudah berkeluarga dikaruniai putri satu yang cantik adalah sebagai seorang pekerja biasa, sedangkan adikku perempuan masih kecil.

Dari sana aku pun sadar, bahwa aku dibesarkan dari hasil bertani (dari tani buruh). Aku bahagia ketika libur hari-hariku aku habiskan ikut Bapak berada di sawah. Tentunya karena aku teringat Bapak yang seorang petani. Saat itulah aku berfikir jika setamat SLTA ingin untuk melanjutkan belajar di sebuah perguruan tinggi pertanian terbesar di negeri ini.

Namun aku sadar bahwa untuk belajar ke tingkat perguruan tinggi tidaklah semudah yang diangankan, hingga aku tetap mencari yang terbaik untuk diriku sendiri.

Aku bangga mempunyai seorang petani seperti Bapak. Ia telah ikut serta mendukung program pemerintah dalam hal penyediaan pangan (beras dll).  Petani Adalah Pahlawan Kehidupan. Tanpa mereka kita tidak bisa makan. Tanpa mereka kita tak tahu mau makan apa hari ini.

Ketika melihat petani, aku selalu teringat Bapak, petani yang kulihat dan Bapak mungkin tidak jauh berbeda. Bapak sosok yang kuat, gagah, sabar, tahan panas dan kotor. Cangkul selalu diayunkan untuk mengolah tanah, tanpa menghiraukan apakah cangkul itu akan mengenai kakinya atau tidak. Terik matahari di siang hari tak pernah dihiraukan. Tubuh pun hitam karena terbakar oleh sengatan matahari. Tetapi itulah Bapak, seorang yang berjuang untuk membesarkan anak-anaknya.

Terima kasih BAPAK+IBU!!!. Engkau telah mengajariku menjadi seorang manusia utuh.


kula; #larendusun 1974


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar